Al-Bada'

2023-07-22 09:40:05

AL-BADA' secara bahasa adalah nampak jelas yang sebelumnya tersembunyi, sebagaimana dijelaskan al Raghib al-Isfahani dalam Mufradat al-Faz al-Quran, dia berkata, "Nampak sesuatu dengan jelas, dan kata bada' yakni nampak sejelas-jelasnya". [0]

Adapun pengertian al-Bada' secara terminologi adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Khu'i, "Adapun al Bada' bermakna tampak secara bahasa.... Contoh pertama, 'Si polan tampak baginya dalam idenya, yakni nyata bagi si polan apa-apa yang tersembunyi sebelumnya'. (ini maknanya seolah pengetahuan Allah swt didahului oleh ketidaktahuan-pen)...'. Contoh kedua, 'Si polan bertempur, maka bada 'lahu tampaklah keberaniannya yang sebelumnya tersembunyi dari pandangan orang (bukan tersembunyi bagi si polan-pen). Maka makna bada' yang dinisbatkan pada Allah swt bermakna al-Bada' pada contoh yang kedua.... Inilah yang dikehendaki oleh akal dan dibuktikan hadis-hadis yang jelas dan sahih, di antaranya 'Abd Allah ibn Sinan dari al-Sadiq as, "Apa-apa yang nyata bagi Allah tentang sesuatu, melainkan sesuatu itu ada dalam Ilmu-Nya sebelum tampak. Bagi-Nya". [1]

Dengan demikian makna al-Bada' adalah sesuatu yang belum terjadi, namun Allah swt telah mengetahuinya, sedangkan manusia belum mengetahuinya. Di mana Allah swt ingin menampakannya kepada manusia, dengan kata lain al-Bada' adalah tampak' sesuatu dihadapan manusia apa yang sebelumnya tersembunyi bagi mereka.

Oleh karena itu, al-Bada' adalah salah satu bahan provokasi kelompok Wahabi untuk mengkafirkan kelompok Syiah dan mereka dari barisan kaum. muslimin, di mana mereka memahami bahwa Syiah. meyakini al-Bada' bagi Allah, yaitu menyematkan sifat jahil bagi Allah swt. Sungguh ini adalah tuduhan keji yang dilemparkan oleh mereka kepada kelompok Syiah, sebab pengertian al-Bada' semacam ini mustahil bagi Allah swt, karena Dia Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

Pengertian al-Bada' semacam ini hanya ada pada asumsi kelompok Wahabi yang tidak melakukan tabayun terlebih dahulu kepada pendapat para ulama Syiah atau kitab-kitab Syiah, maka dari itu, makna al-Bada' menjadi salah kaprah dan tidak pada tempatnya. Kelompok Wahabi memang pada dasarnya bukan ingin menjernihkan persoalan dan menciptakan kebersamaan yang harmonis, akan tetapi tujuannya hanya memecah belah persatuan muslimin dengan mengangkat isu isu yang sebenarnya mereka sendiri tidak memahaminya.

Pada kesempatan kali ini kami juga ingin coba mengurai benang kusut yang diciptakan oleh kelompok Wahabi mengenai pemahaman al-Bada', yang dijelaskan oleh para ulama Syiah bahkan dijelaskan pula oleh para ulama Ahlu al-Sunnah, sehingga kaum muslimin mengerti ara utuh dan benar tentang makna dan hakikatnya. Berbagai ketetapan dalam al-Quran telah menguatkan mengenai gugurnya konsep al-Bada' yang diartikan bahwa Allah swt tidak mengetahui sesuatu sebelum terjadinya. Dalam al-Quran Allah swt Berfirman:

"Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit" (QS. Al Imran (3):5). Dalam ayat lain; "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit" {QS. Ibrahim (14): 38}.

Dari paparan dua ayat di atas, tentunya telah menafikan al-Bada' bagi Allah swt yang dipafami kaum Wahabi adalah menyematkan sifat jahil pada-Nya. Setelah itu, mereka menisbatkan pemahaman tersebut kepada kelompok Syiah. Jika mereka mau membaca (jika bisa membaca), di bawah ini akan dipaparkan berbagai penjelasan dari para imam kelompok Syiah Ahl al-Bayt yang dikutip dalam kitab-kitab Syiah. Adapun paparannya sebagai berikut;

Dari Abu Ja'far as ia berkata, "Allah ada dan belum ada sesuatu kecuali Dia, dan Dia senantiasa mengetahui apa-apa yang terjadi (sebelum hal itu terjadi-pen) karena pengetahuan-Nya kepada sesuatu sebelum adanya sesuatu, seperti pengetahuan-Nya kepada sesuatu setelah adanya sesuatu". [2]

Dari Mansur ibn Hazim yang berkata, "Aku bertanya kepada Abu 'Abd Allah as, 'Apakah terjadinya sesuatu di hari ini belum ada dalam ilmu Allah di waktu kemarin?", Berkata Imam as, 'Tidak, barang siapa yang mengatakan ini, maka Allah telah menghinakannya'. Aku kembali bertanya, Apakah anda menilai bahwa apa-apa yang telah terjadi, yang sedang dan yang akan terjadi hingga hari kiamat, sudah ada dalam ilmu Allah?'. Imam berkata, 'Benar, sebelum Dia menciptakan makhluk'". [3]

Dari dua riwayat ini sangat jelas bahwa segala sesuatu telah diketahui oleh Allah swt, baik sebelum sesuatu itu terjadi maupun setelahnya, sehingga mustahil sifat jahil disematkan kepada Allah swt, seperti apa yang difahami oleh kelompok Wahabi.

Pengertian al-Bada' yang diyakini oleh kelompok Syiah, juga terdapat dalam kitab Ahlu al-Sunnah. Dalam kitab Fathu al-Bari, Ibn Hajar al-Asqalani berkata, "Bada' lillah",... yakni telah mendahului dalam ilmu Allah, lalu Dia ingin menampakannya, dan yang dimaksud bukan tampak bagi-Nya yang sebelumnya tersembunyi, karena hal itu mustahil bagi Allah Swt". [4]

Demikian pula dalam 'Umdah al-Qari Sharh Sahih al Bukhari, Al- Ayni berkata, "Bada' lillah",... Yakni telah mendahului dalam ilmu Allah, lalu Dia ingin menampak kannya, dan yang dimaksud bukan nyata bagi-Nya yang sebelumnya masih tersembunyi, karena hal itu mustahil bagi Allah Swt, semuanya sepakat akan hal ini". [5]

Jika menelisik paparan kedua ulama besar Ahlu al-Sunnah ini yaitu Ibn Hajar al- Asqalani dan Imam al-'Ayni, sama sekali tidak ada perbedaan dengan kelompok Syiah dalam memaknai kata al-Bada' bagi Allah, namun karena kesempitan akal dan kedangkalan otak kelompok Wahabi, tuduhan itu tetap digulirkan dengan tujuan memfitnah kelompok Syiah, dengan cara memutarbalikkan kata al-Bada' dari makna yang diyakini kelompok Syiah.

Berikut ini kami juga bawakan contoh salah satu riwayat tentang al-Bada' yang terdapat dalam kitab Sahih al-Bukhari; Dalam sebuah riwayat yang panjang dari Abu Hurayrah, dia mendengar Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya ada tiga musibah yang menimpa Bani Israil yaitu; penyakit kusta, belang dan buta, maka nampak jelas bagi Allah swt (bada' lillah) untuk menguji mereka kemudian Allah mengutus malaikat kepada mereka..." [6]

Dalam riwayat yang dimuat dalam Sahih al-Bukhari di atas terdapat kalimat bada' lillah', yang diartikan sama oleh kelompok Ahlu al-Sunnah dan Syiah, namun oleh kelompok Wahabi maknanya dipalingkan dari hakikatnya, sebagaimana tradisi itu telah menjadi kebiasaan mereka akibat ketidak-fahaman pada hakikat sesuatu.

Pertanyaannya adalah; siapakah sebenarnya yang telah menisbatkan dan menyematkan sifat jahil kepada Allah swt. Perhatikan bagaimana pengertian kata al-Bada' dalam pandangan kelompok Wahabi yang dipelopori oleh Imam besarnya yaitu Ibn Taymiyah.

Dalam kitab Bayan Talbis al-Jahmiyyah karya Ibn Taymiyah setelah menyebutkan sanad dari Ibn Mas'ud yang berkata, "Sesungguhnya jumlah waktu dalam satu hari dari hari-hari kalian, di sisi Allah adalah dua belas jam. Amalan perbuatan kalian yang kemarin dilaporkan kepada-Nya pada awal siang hari ini, dan Allah melihatnya selama tiga jam. Maka nampak dari laporan itu hal yang Dia benci, lalu Allah murka. Yang pertama mengetahui kemurkaan-Nya adalah para Malaikat yang memikul Arsy, karena Arsy menjadi lebih berat. Maka bertasbihlah para malaikat yang memikul Arsy itu". Setelah penukilan riwayat di atas, Ibn Taymiyah berkata, "Ketahuilah bahwa tidak dilarang membawakan riwayat tersebut secara tekstual, sebab beban berat terjadi pada Dzat al-Raḥman...". [7]

Setelah membaca dan memperhatikan riwayat di atas yang jadi rujukan kelompok Wahabi, maka kami ingin bertanya, bagaimana pendapat mereka tentang riwayat yang dinukil Ibn Taymiyah, yang mengatakan bahwa Allah swt melihat amalan manusia selama tiga jam, lalu tampak dari laporan itu hal yang Dia benci? Bukankah riwayat ini jelas menunjukkan bahwa sebelumnya Allah swt tidak tahu perihal amalan manusia, sehingga harus melihat dan meneliti lalu mendapatkan hal yang dibenci-Nya? Bukankah riwayat ini menunjukkan sifat jahil pada Allah swt, di mana Dia tidak mengetahui apa-apa yang dilakukan hamba-Nya sebelum laporan itu diserahkan? Bukankah ini telah menuduh Allah tidak memahami sebelumnya apa yang dilakukan hamba Nya? Bukankah ini makna al-Bada' yang dituduhkan kelompok Wahabi pada kelompok Syiah selama ini? Sementara dapat disaksikan dengan jelas bahwa riwayat tersebut telah dibawakan oleh Ibn Taymiyah sebagai salah seorang rujukan kelompok Wahabi dalam kitab tersebut.

Dengan paparan yang singkat ini, semoga kaum muslimin dapat menilai, tentang kelompok Wahabi? Siapakah kelompok penebar 'hoaks' selama ini dan menisbatkan. berbagai tuduhan keji pada mereka yang menyelisihinya? Siapakah kelompok yang selalu mengkafirkan dan menyesatkan kelompok lain yang berseberangan dengan mereka? Terhadap sesama muslim yang berbeda pendapat atau berseberangan saja, mereka bisa menyesatkan bahkan mengkafirkan, maka bagaimana mungkin kelompok Wahabi akan berbaur di NKRI negara yang kita cinta ini, di mana di dalamnya terdapat multi agama dan keyakinan? Kami berlindung pada Allah swt dari fitnah dan hoaks kelompok Wahabi. Amin Ya Rabb al-'Alamin......